Selamat Datang di Website Resmi Akademi Kobujutsu AlFalah Indonesia

Selasa, 11 Juni 2013

Kobujutsu Indonesia

Sekilas tentang  Kobujutsu
Secara harfiah Kobujutsu berarti Ilmu Beladiri Tua/Kuno/Tradisional (Old Martial Art). Istilah Kobujutsu digunakan  masyarakat beladiri Okinawa mengacu pada penggunaan Senjata Klasik Tradisional pada  Seni Beladiri Okinawa. Selanjutnya istilah Kobujutsu lebih sering digunakan untuk Ilmu Beladiri  Menggunakan Senjata.
Cerita yang umum/populer menyatakan bahwa Kobujutsu muncul dari penggunaan alat-alat pertanian/nelayan yang berevolusi menjadi senjata karena saat itu para petani/nelayan tidak diperkenankan membawa senjata. Karena itu para petani berusaha menciptakan dan mengembangkan teknik beladiri menggunakan alat pertanian tradisional mereka sebagai senjata.
Senjata-senjata itu antara lain bo, yaitu tongkat yang digunakan sebagai alat bantu saat berjalan, atau untuk menggantungkan dua beban/barang bawaan dan dipanggul di pundak (bhs Jawa: pikulan). Eku adalah dayung nelayan. Dannunchaku (double stick) digunakan sebagai alat pemukul untuk merontokkan padi.
Namun, para ahli seni bela diri modern telah menemukan latar belakang historisuntuk cerita ini, dan bukti yang ditemukan oleh berbagai ahli sejarah bela dirimenunjukkan bahwa kasta Ksatria Pechin (Pechin Warrior) di Okinawa-lah yang mempraktekkan dan mempelajari seni bela diri Kobujutsu ini, bukan Heimin(orang biasa).
Jika dibagi sesuai jenisnya maka senjata-senjata dalam beladiri Kobujutsu ada dua kelompok yaitu :
1.   Kelompok senjata tajam : Ken, Sai, Kama, Timbre Rochin, Kakato dll
2.   Kelompok senjata tumpul : Bo,  Eku, Tonfa, Nunchaku dll
3.   Kelompok senjata Aplikatif : Yaware (Ballpoint), Gi (Jaket), Obi (Sabuk) dll.
Saat ini Ilmu Kobujutsu dengan berbagai senjatanya tersebut dipelajari dan dikembangkan hampir di seluruh dunia sebagai olah raga dan juga seni.
Kobujutsu di Indonesia
Setiap bangsa di dunia ini memiliki budaya beladiri yang juga mengembangkan alat perlengkapan sehari-hari menjadi senjata sebagai alat perlengkapan beladiri, tidak terkecuali Indonesia. Negara Indonesia yang terdiri dari kepulauan, menjadikannya memiliki banyak suku, tentu tiap suku juga memiliki senibudaya,beladiri sekaligus senjata khas.
Karena kultur Indonesia tidak terlalu jauh berbeda dengan kultur Jepang maka peralatan dan senjata yang ada dalam Kobujutsu kebanyakan juga ada di Indonesia. Hanya saja perbedaannya di Indonesia pada umumnya peralatan kerja sehari-hari yang berupa senjata tajam saja yang selanjutnya berkembang menjadi senjata, sedangkan yang berupa peralatan tumpul kurang dikembangkan menjadi senjata.
Sebagai contoh :
Sabit atau clurit di Madura sudah dikembangkan menjadi senjata yang asalnya merupakan alat untuk memotong padi atau rumput.
Mandau sebenarnya adalah peralatan sehari-hari yang digunakan di ladang atau sebagai perlengkapan berburu di hutan bagi masyarakat Dayak di pulauKalimantan.
Sedangkan peralatan kerja yang berupa peralatan tumpul tidak dikembangkan menjadi senjata seperti di Okinawa misalnya:
Bo atau tongkat panjang yang berasal dari alat untuk membawa dua beban di pundak  atau di Indonesia (Jawa) disebut pikulan.
Eku jelas berasal dari  dayung sampan.
Akademi Kobujutsu Indonesia (AKI)
Kami mencoba membuat terobosan baru dengan mendirikan Akademi Ilmu Kobujutsu Indonesia (AKI) untuk mengembangkan Ilmu, Seni dan Olah Raga Beladiri Kobujutsu Indonesia. Dalam pengembangan ini kami juga melengkapi latihan senjata (bukijutsu) dengan teknik tangan kosong (taijutsu) yang antara lain meliputi teknik kuda-kuda (tachi waza), langkah (tai sabaki), teknik tangkisan (uke waza), pukulan (uchi waza), tendangan (geri waza), teknik jatuhan (ukemi waza),lemparan (nage waza), kuncian (katame waza), katakumite, teknik menghadapi senjata, beladiri wanita dll.
Adapun senjata yang dikembangkan dalam Kobujutsu Indonesia antara lainTraditional Kobujutsu (menggunakan senjata tradisional) seperti Tongkat (Bo, Jo, Hanbo), Police Baton (Tonfa), Dayung (Eku), Ken/Bokken,Trisula (Sai), Pacul(Kakato), Sabit (Kama), Yaware dll serta Modern Kobujutsu (memanfaatkan peralatan  sehari-hari)  seperti Ballpoint, Payung, Sabuk, Jaket, Helm, Tas dll
kami team Kobujutsu Alfalah

Kamis, 06 Juni 2013

Bagian bagian senjata tonfa



  • handle (pegangan) adalah bagian yang tegak lurus (membentuk sudut 90 derajat) dengan masing – masing ujung tongkat. Sesuai dengan namanya maka fungsi utama handle adalah untuk pegangan.
  • long end adalah bagian batang tongkat yang panjang (diukur dari titik temu pada pangkal handle sampai ujung tongkat). Bagian ini paling banyak digunakan dalam pembelaan diri, baik untuk menangkis maupun untuk melakukan penyerangan.
  • short end adalah bagian batang tongkat yang pendek. Meski tidak sebanyak bagian Long End bagian ini sering juga digunakan untuk melakukan tangkisan atau serangan. Jika dibandingkan dengan Long End, bagian ini masih lebih memungkinkan digunakan untuk pegangan. Meski demikian pegangan pada handle adalah yang paling utama karena paling efektif dan efisien.

  • knop adalah bagian tongkat yang berbentuk agak bulat (setengah bulat /berupa benjolan) yang terletak pada ujung handle. Fungsi sebenarnya adalah untuk penahan agar pegangan tangan pada tongkat (handle) tidak mudah lepas. Walau demikian dari hasil studi pengembangan oleh I.J.I Pengda Jatim, knop dapat juga digunakan untuk melakukan penyerangan.

Sejarah Senjata Tonfa

Tonfa adalah jenis senjata tongkat berasal dari Okinawa, berbentuk sederhana, tongkat lurus dengan pegangan tegak lurus dekat salah satu ujungnya. Alat ini sering kita lihat tergantung pada pinggang para aparat kepolisian yang sedang bertugas mengatur lalu-lintas, yang melakukan pengamanan demonstrasi ataupun yang menangani kerusuhan. Perlu diketahui bahwa alat ini sebenarnya berasal dariOkinawa zaman kuno, tongkat sederhana yang akhirnya berkembang menjadi senjata dalam beladiri selama berabad-abad.

Dikatakan bahwa tonfa pada awalnya adalah pegangan kayu yang terdapat pada sisi dari gilingan (millstone) atau bagian dari kekang kayu pada kuda -- yang dapat dengan mudah dilepaskan dan dipasang kembali --, dan yang kemudian dikembangkan menjadi senjata saat petani-petani Jepang dilarang menggunakan senjata tradisional mereka. Sumber lain mengatakan bahwa jenis senjata ini memiliki sejarah yang lebih menarik jauh ke belakang ke masa seni beladiri Tiongkok, dan kemudian menyebar dalam budaya Indonesia dan Filipina. Jenis senjata ini juga terlihat diThailand sebagai Mae Sun Sawk dengan sedikit perbedaannya.

Kobujutsu adalah teknik/seni pertarungan dengan senjata dari Okinawa. Saat ini, banyak teknik yang berorientsi pertarungan nyata (combat-oriented) atau sering disebut jutsu telah banyak digantikan oleh seni/teknik bela diri (martial way), atau disebut do. Begitu juga Kobudo terbentuk dari Kobujutsu. Kebanyakan senjata-senjata tongkat yang digunakan sebagai peralatan pertanian yang sederhana: contohnya bo, yaitu tongkat yang digunakan sebagai alat bantu saat berjalan, atau untuk menggantungkan dua beban/barang bawaan dan dipanggul di pundak (Bhs Jawa :pikulan). Eku adalah dayung nelayan. Dan di mana-mana nunchaku (double stick) digunakan sebagai alat pemukul untuk merontokkan padi.
Penduduk desa atau orang kebanyakan, dilarang memiliki senjata yang lebih maju seperti pedang atau naginata, mengubah peralatan sehari-hari untuk pertahanan atau pembelaan diri. Teknik-teknik yang dipakai dimasukkan dalam kata, atau dalam rangkaian gerakan khusus, yang memungkinkan praktisi kobudo untuk melatih dan mengembangkan pengetahuannya.

Tonfa sering digunakan sepasang, satu pada masing-masing tangan, kanan dan kiri. Dengan menggenggam handle dan tangkai (long end) dibalik lengan bagian bawah, penggunaan tonfa dapat diterapkan dengan teknik yang sama seperti teknik tangan kosong. Pada dasarnya, tonfa akan lebih memperpanjang siku penggunanya bila menggunakan pegangan handle. Dua senjata memungkinkan pemakai secara simultan menangkis dengan satu tonfa dan memukul dengan satu tonfa yang lain; kayu keras yang kuat dan padat dapat melindungi dari sabetan pedang.
Teknik-teknik penggunaan tonfa cenderung tetap dan tidak banyak berubah sampai tahun 1971, Lon Anderson mengembangkan teknik “satu-tonfa (single-tonfa )” untuk anggota polisi. Mungkin alasan inilah yang menyebabkan tonfa banyak dipakai saat ini.
Pada tahun 1971, Lon Anderson menggunakan tonfa untuk kinerja kepolisian. Pada era ini Anderson mencoba mengembangkan untuk senjata pemukul bagi polisi, alat pentungan (billy club),tongkat malam (night stick) dan tongkat anti-kerusuhan (riot baton), semua itu pada dasarnya masih merupakan alat pemukul. Monadnock Corporation of New Hampshire memproduksi tongkat Prosecutor PR-24 pertama kali pada tahun 1974.
Tongkat dengan handle (side-handle baton) yang baru ini dengan cepat menjadi popular di kawasan Amerika Serikat (USA). Kini, tidak asing lagi jika melihat petugas patroli berkeliling dengan tonfa di pinggang, padahal senjata ini banyak mengundang kontroversi saat pertama kali diperkenalkan. Saat itu seni beladiri masih merupakan hal baru bagi kebanyakan orang.
Hal yang sama terjadi di Inggris ketika petugas polisi mulai menggunakan tongkat dengan handle tersebut. Hal ini dikarenakan senjata baru ini masih asing dan belum teruji saat itu. Setelah seni beladiri telah menjadi hal yang sudah biasa, menerapkan senjata tradisional untuk alat modern menjadi lebih mudah diterima. Teknik penggunaan tongkat dengan handle (side handle baton ) ini mempunyai banyak kesamaan dengan penggunaan tonfa tradisional, bedanya di sini menggunakan satu tonfa, sementara tangan yang satunya digunakan untuk perlindungan atau memperkuat tangkisan dan pukulan.

Tonfa, yang di Amerika Serikat disebut dengan Side Handle Baton (Tongkat dengan Pegangan) maka di Indonesia alat ini lebih dikenal dengan istilah “Tongkat T”.
Tonfa (Tongkat T) merupakan salah satu jenis senjata yang dipelajari di Institut Ju-Jitsu Indonesia. Teknik penggunaan tongkat T ini dikembangkan oleh Brigadir Jendral Polisi Drs. DPM Sitompul, SH, MH (salah seorang guru besar Institut Ju-Jitsu Indonesia) dan dijadikan alat perlengkapan anggota Polri pada tahun 1999. Pada bulan Maret 2003 merespon permintaan Pusat Pendidikan Tugas Umum Polri (Pusdik Gasum), Porong-Jawa Timur, maka teknik penggunaannya digali dan dikembangkan kembali oleh Pengurus Daerah Institut Ju-Jitsu Indonesia Jawa Timur (Pengda IJI Jatim). Dari studi pengembangan ini dihasilkan metode pembelajaran teknik penggunaan tongkat T, yaitu diberikan nama-nama gerakkan dasar (teknik dasar, pukulan, tangkisan, kuncian) yang dimaksudkan untuk memudahkan latihan dan pengembangannya.
Selanjutnya, atas permintaan Panitia Peringatan HUT POLRI (Hari Bhayangkara) ke-57 tahun 2003, disusun rangkaian gerakan, yaitu Kata I, Kata II, Kata III dan beberapa teknik aplikasi. Rangkaian gerakan tersebut diperagakan pada pelaksanaan upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-57 (1 Juli 2003 di Lapangan Terbang Pondok Cabe, Tangerang) oleh 1000 personel, yaitu 500 orang siswa Secapa Polri angkatan ke XXX (Resimen Wira Astha Brata) dan 500 orang siswa Diktukta Pusdik Brimob Watukosek angkatan tahun 2003.